Kompetensi Utama

Layanan


LAPAN Siap Hilirisasi Inovasi Hasil Litbang
Penulis Berita : Humas/And • Fotografer : Humas/And • 07 Sep 2017 • Dibaca : 91405 x ,

Peserta FGD Rencana Pembangunan Aerospace and Techno Park menyimak pemaparan tentang pengembangan STP.

LAPAN menyelenggarakan kegiatan FGD Rencana Pembangunan Aerospace and Techno Park (ATP) di Ruang Rapat Antariksa, Kantor LAPAN Pusat, Jakarta, Kamis (07/09). “Kegiatan ini untuk mempersiapkan rencana revitalisasi Pusat Pemanfaatan Teknologi Dirgantara (Pusfatekgan) menjadi Pusat Inovasi dan Standar Penerbangan dan Antariksa (Pusispan),” ujar Kepala Pusfatekgan, Yuliantini Erowati.

Kegiatan ini tidak sekadar mengkaji atau membuat master plan, melainkan bisa mengakomodasi dan menyatukan persepi seluruh kebutuhan untuk membangun sebuah Science Techno Park, biasa dikenal dengan STP. STP itu sendiri sebagai intermediasi antara penghasil teknologi dengan penggunanya.

Kepala LAPAN, Prof. Dr. Thomas Djamaluddin berharap, LAPAN bisa belajar dari pengalaman LIPI menghilirisasi hasil litbang dan paten-paten yang produktif sehingga bisa dimanfaatkan masyarakat. Peneliti dan perekayasa LAPAN tidak lagi memasarkan sendiri produknya, karena akan dikelola oleh Pusispan.

Untuk mempersiapkannya, LAPAN punya dua aset penting yang bisa dijadikan bagian dari pengembangan ATP. Aset tersebut berlokasi di Jl. Iskandar Sah (Jakarta) dan daerah Ciater (Jawa Barat).

Bagaimana persiapannya? LAPAN punya visi “Menjadi Pusat Unggulan Penerbangan dan Antariksa untuk Mewujudkan Indonesia yang Maju dan Mandiri. Dua aspek yang menjadi ciri Pusat Unggulan, yaitu unggul dari segi kompetensi (publikasi, produk teknologi, paten, dan sebagainya) dan unggul dari segi layanan (produk-produk teknologi bisa dirasakan masyarakat umum). “Jadi ada perimbangan antara hasil-hasil litbang yang menunjukkan kompetensi LAPAN dengan layanan hasil litbang, sehingga menjadi layanan yang berkualitas,” imbuhnya.

Maka ia mengarahkan harus ada aspek layanan yang dikeluarkan oleh semua satker teknis di LAPAN. LAPAN harus menghasilkan inovasi, paten, dan produk teknologi dari tujuh program utama yang dilaksanakan oleh pusat-pusat teknis.

Produk penerbangan didorong untuk menghasilkan berbagai tipe pesawat tanpa awak yang akan diproduksi oleh PT. Mandiri Mitra Muhibbah. Tantangan lainnya, pesawat transportasi bisa dimanfaatkan stakeholder, mulai dari pembangunan N219, N245, kemudian variasi dari N219.

Di bidang satelit, Satelit buatan LAPAN seri A4 sedang ditetapkan misinya untuk pemilihan roket peluncur. Selanjutnya, pembangunan seri A5 hasil kerja sama dengan Chiba University direncanakan bermuatan radar. Baru kemudian LAPAN mengembangkan satelit operasional. LAPAN punya mimpi mengembangkan Satelit Remote Sensing Nasional yang membutuhkan anggaran sekira 5 triliun rupiah. Strateginya, untuk 5-10 tahun ke depan LAPAN mengembangkan satelit mikro dengan estimasi biaya terjangkau yaitu 100 milyar rupiah. Sehingga LAPAN tinggal mengembangkan kemampuan itu menjadi satelit konstelasi.

“Sudah saatnya transfer teknologi ini ke arah industri yang dikembangkan untuk berbagai kebutuhan. Ada kemungkinan LAPAN mengembangkan satelit komunikasi. Karena untuk menempatkan posisi satelit di GSO sudah tidak memungkinkan lagi. Sehingga besar kemungkinan penempatan di orbit rendah, dan cukup dengan satelit mikro,” jelasnya.

Di bidang inderaja, LAPAN meningkatkan layanan tidak sekadar menjual data saja namun juga informasi. Butuh keterlibatan UKM mengingat kebutuhan yang semakin meluas di berbagai aspek. Dengan berkembangnya teknologi informasi, produk-produk litbang tidak bisa dihasilkan sendiri lagi, melainkan diproduksi oleh UKM tersebut.

Terkait bidang sains antariksa, tidak lagi bicara tentang kondisi cuaca di bumi saja, namun juga cuaca antariksa. Sebab teknologi berbasis antariksa sudah sangat mendominasi masyarakat modern. Kini bahkan sudah ada beberapa negara yang tidak lagi memberikan layanan gratis, melainkan komersialisasi. Terkait sains atmosfer, LAPAN mengembangkan radar cuaca bekerja sama dengan PT. Inti.

FGD menghadirkan narasumber dari LIPI dan Kemenristekdikti. Kepala Pusat Inovasi LIPI, Prof. Nurul Taufiqu Rochman berbagi pengalaman dalam pengembangan STP. Ia menjelaskan bagaimana pembentukan dan pengelolaannya, unsur-unsur utama yang diperlukan, serta pengelolaan paten dari hasil-hasil litbang menuju komersialisasi.

Sementara Direktur Kawasan Sains dan Teknologi dan Lembaga Penunjang lainya Kemenristekdikti, Dr. Lukito Hasta P. menyampaikan kebijakan tentang STP dan Kelembagaannya. Ia menegaskan fungsi utama STP, syarat layanan, dan indikator kinerja yang menunjukkan nilai keberhasilanm STP itu sendiri.

Kepala LAPAN berharap pertemuan ini bisa menjadi pedoman untuk LAPAN. Pusispan dibangun untuk dijadikan TTO (Transfer Teknologi Office) bagi produk inovasi LAPAN. “Pengalaman kali ini membuka wacana kita, bagaimana menghasilkan suatu inovasi kemudian dipatenkan. Belajar memajukan inovasi tanpa keraguan untuk mengupayakannya. Maka para peneliti dan perekayasa LAPAN harus paham hak dan kewajiban dan bagaimana mengelola paten tersebut,” tegasnya menutup pembicaraan.


Your Comments
No Comments Results.
Comment Form












Please retype the characters from the image below :


Reload the CAPTCHA codeSpeak the CAPTCHA code
 








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815




© 2018 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL